Saluran irigasi yang disedot perusahaan.
Berita Mandiri, Banten: Pemberitaan yang ramai beberapa hari ini terkait pengambilan air dari aliran irigasi Pamarayan Barat kini menjadi perhatian publik.
Akibat dari pengambilan air (menyedot) yang diduga dilakukan oleh PT Sauh Bahtera Samudra,yang telah menyedot air irigasi dengan volume yang cukup besar jumlah,yang mengakibatkan petak persawahan di daerah sekitar aliran irigasi menjadi kekurangan pasokan air.
Sementara itu persawahan di sekitar aliran irigasi merupakan sawah tadah hujan.
Saat wartawan mengkonfirmasi terkait hal perizinan milik PT SBS yang diduga telah habis masa berlakunya ke Dinas PUPR Propinsi Banten,kepala Dinas PUPR propinsi Banten Ir.Hadi suryadi mengatakan agar ke statnya saja yang bernama Deni.Namun saat wartawan menemuinya Deni mengatakan terkait perizinan air permukaan Deni menganjurkan ke Endang Sudrajat.
“kalau saya sekarang menangani masalah jalan,silakan bapak ke Endang Sudrajat,”terang Deni pada wartawan.
Ketika wartawan menyambangi kantor Endang Sudrajat wartawan ditemui seorang staf bernama Eki dan mengatakan pak Endang Sudrajat sedang ada acara.
Saat ditanya terkait izin air permukaan Eki menjelaskan bahwa pihaknya sekarang ini hanya menangani air permukaan wilayah selatan,itupun berdasarkan peraturan Menteri PUPR No 4 tahun 2015,jadi untuk pamaran barat dan timur itu langsung ditangani oleh BBWSC3,”tegas Eki pada wartawan.
Diberitakan sebelumnya bahwa Terkait perizinan usaha PT.SBS, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpada Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Banten menjelaskan bahwa pihaknya belum mengetahui.
“Mungkin di Kota Serang. Karena perpindahan terkait perizinan usaha baru,” jelas petugas pelayanan DPMTSP Banten kepada wartawan.
Ditambahkannya, bahwa perizinan penyedotan air itu adanya di PUPR. “Kalau di sini sepi. Kalau yang rame ngurus izin di Kabupaten dan Kota. Terkait PT.SBS silakan Bapak ke perizinan Kabupaten atau Kota dan ke PUPR,” terangnya.
Sementara itu, warga di sekitar PT.SBS di Kampung Kenari, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengeluhkan aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan PT.SBS.
Pasalnya, sejak berdirinya perusahaan tersebut di tahun 1991 sampai dengan sekarang, warga jadi sering kekurangan air untuk pengairan sawah dan pertanian lainnya.
Keluhan tersebut bukan hanya dirasakan untuk warga Desa Kenari Saja, warga Kampung Margasana juga merasakan kesulitan air untuk lahan pertanian mereka, karena pasokan air irigasi persawahan disedot oleh perusahaan penyalur air tersebut.
Pantauan awak media di lokasi, perusahaan tersebut menyedot air secara diam-diam di saluran irigasi persawahan warga. Perusahaan itu pun menggunakan lebih dari satu mesin penyedot air. Bahkan menurut dari salah satu tokoh masyarakat setempat, Halimi (56), di saluran irigasi tersebut ada sekitar empat mesin penyedot air.
“Kalau lagi surut suka kelihatan mesinnya. Ada sekitar empat mesin sedot. Air untuk pesawahan warga langsung habis kesedot,” ujarnya.
Sementara, Ketua Gapoktan Kampung Margasana, H. Anis (50) juga mengeluhkan adanya perusahaan tersebut. Pasalnya, sejak perusahaan itu berdiri, petani selalu mengalami gagal panen karena selalu kekeringan.
“Dulu sebelum perusahaan itu ada, kami tidak pernah mengalami kendala dalam bertani. Tapi sekarang sering sekali gagal panen. Kalau pun panen hasilnya sangat jauh dari normal. Biasanya dalam satu hektare, kami bisa mendapatkan hasil 6 sampai 7 ton padi, namun sekarang hanya dapat 4 ton saja,” jelasnya.(suryadi/binsar)







