Illustrasi rentenir (aceHTrend)
Berita Mandiri, Sukabumi: Istilah Bank Emok adalah istilah untuk lembaga keuangan mikro yang melakukan penagihan secara berkelompok (group lender). Model ini mengadopsi gaya Grameen Bank di Bangladesh yang didirikan Mohamad Yunus, seorang Profesor ekonomi.
Ibu rumah tangga alias emak-emak jadi sasaran, tetapi Bank Emok menetapkan bunga tinggi dalam setiap pinjamannya, tidak seperti Grameen Bank.
Entah kenapa, praktik pinjaman di kalangan masyarakat yang identik dengan rentenir tersebut masih menjadi sebuah fenomena yang seolah tak lekang di telan zaman. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Sukabumi, Jawa Barat, muncul istilah bernama Bank Emok yang menjadi modus baru bagi para rentenir untuk menjalankan aksinya.
Layaknya para rentenir, mereka menjalankan praktiknya meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi. Nama Emok sendiri dipilih karena ada korelasinya dengan target mereka, yakni para ibu rumah tangga yang sedang membutuhkan dana.
Nama Emok yang mempunyai hubungan dengan sasaran yang jadi konsumen pinjaman. Penggunaan nama Emok sendiri ternyata memiliki kaitan yang erat dengan pangsa pasar yang dituju. Berasal dari bahasa sunda, Emok adalah cara duduk lesehan ala perempuan dengan cara bersimpuh sembari menyilangkan kaki ke belakang. Jelas, sasaran pinjaman mereka adalah kaum wanita, di mana saat proses transaksi dilakukan sembari duduk lesehan.Praktik pinjaman dana yang memiliki syarat sangat mudah.
Keberadaan Bank Emok sendiri cepat populer karena pengajuan syarat untuk meminjam sangat mudah. Salah seorang wanita peminjam dana lewat Bank Emok yang berinisial YI mengatakan, hanya dengan fotokopi KTP, uang pinjaman sudah ada di tangan. Syaratnya mudah, hanya setor KTP saja sudah bisa pinjam uang,” ujarnya ketika ditemui berita mandiri.co
Tidak meminjamkan dana untuk perorangan atau individu. Saat mencairkan dana, Bank Emok memilih sebuah kelompok yang terdiri dari 10 orang atau lebih. Alhasil, pinjaman yang dilakukan akan ditanggung bersama.
Ini berarti seluruh anggota kelompok harus menanggung pinjaman jika ada salah seorang yang terkendala masalah pelunasan alias gagal bayar.
Pemilihan model pinjaman kelompok ini dikarenakan masyarakat memiliki ikatan emosional, dan dalam kelompok perempuan, sanksi sosial lebih berat dari sanksi lainnya. Melalui model pinjaman berkelompok, tingkat pengembalian tinggi, karena ada anggota kelompok yang saling mengingatkan apalagi saat pinjaman dilakukan secara tanggung renteng. Tanggung renteng, adalah pola pengembalian, dimana anggota akan saling menutupi/ membantu anggota lain yang kesulitan pengembalian.
Model pembiayaan berkelompok ini sangat membantu bagi kelompok masyarakat yang tidak dapat berhubungan dengan lembaga keuangan formal (un bankable). Sehingga jika melihat kisah sukses di Bangladesh, baik nasabah, karyawan maupun Grameen Bank sendiri, saat ini menerima manfaat luar biasa dari pembiayaan kelompok. Model ini di Indonesia diadopsi baik oleh beberapa program, seperti P2KP, PNPM Mandiri, maupun lembaga keuangan mikro (koperasi, BMT, dan lainya).
Serupa dengan praktik rentenir konvensional, Bank Emok juga menerapkan bunga yang tinggi dalam setiap pinjamannya. Contohnya bisa dilihat dari sosok YI di atas. Dirinya yang saat itu meminjam sebesar Rp 1,5 juta, wajib mencicil pinjamannya sebesar Rp 50 ribu per minggu selama 50 kali hingga lunas. Jika dikalkulasi, total yang harus ia kembalikan sebesar Rp 2,5 juta. Bisa dilihat, ada kelebihan Rp 1 juta sebagai beban bunga yang wajib dilunasi
Pemilihan model pinjaman kelompok, dikarenakan masyarakat memiliki ikatan emosional, dan dalam kelompok perempuan, sanksi sosial lebih berat dari sanksi lainnya. Melalui model pinjaman berkelompok, tingkat pengembalian tinggi, karena ada anggota kelompok yang saling mengingatkan apalagi saat pinjaman dilakukan secara tanggung renteng. Tanggung renteng, adalah pola pengembalian, dimana anggota akan saling menutupi/ membantu anggota lain yang kesulitan pengembalian.
Sugianto Sumirat yang merupakan aktivis dan ketua karangtaruna Desa babakan mengatakan bahwa Banyak orang yang butuh uang, dan merasa perlu pinjam uang, tetapi belum punya sumber pengembalian yang jelas. Melek keuangan menjadi syarat penting, artinya kalau tidak bisa mengembalikan uang, jangan pernah pinjam uang”ungkapnya
Masih menurut Sugianti Sumirat bahwa Masalah lain adalah banyak ibu-ibu meminjam uang walau sebetulnya tidak butuh. Di beberapa daerah, para ibu meminjam uang untuk dibelikan perhiasan, pakaian, hingga telpon genggam. Budaya konsumtif di pedesaan juga cenderung tinggi, dan tingkat penghargaan seseorang terhadap materi cukup kental. Kadang, kalau jalan beriringan, penampilannya luar biasa. (One)







